Sandika Febrian Junianto — Cerita Seorang Pemuda yang Menemukan Jalannya

 Sandika Febrian Junianto — Cerita Seorang Pemuda yang Menemukan Jalannya
 
 Identitas
 
Nama Lengkap: Sandika Febrian Junianto
Kelas: X-H, SMAN 1 Rancaekek
Alamat: Kampung Bojong Melati, RT 02 RW 07, , Kabupaten Bandung
Tanggal Pembinaan: 16 Oktober 2026
Guru Wali kelas : Nia Kania Dewi
 
Di Rumah Belajar Mandiri & Menghargai Keluarga
 
Sandika adalah anak yang tumbuh di lingkungan yang hangat dan penuh kasih sayang. Ia memanggil ibunya dengan sebutan Bunda dan ayahnya dengan Ayah. Karena pekerjaan Ayah di sebuah perusahaan asal Jepang, Ayah memang kadang lebih sibuk dengan rutinitas kerjanya, meski kasih sayangnya tak pernah kurang. Bundanya adalah seorang ibu rumah tangga yang lembut namun bijaksana, selalu ada di rumah dan menjadi pelabuhan paling tenang bagi Sandika.
 
Hanya saja, Bunda memang lebih sering menjadi tempat bercerita bagi Sandika. Yang membuat Bunda sangat bangga adalah keterbukaan hati Sandika. Ia berani berbicara tentang apa saja kepada Bunda  kegembiraannya, kesedihannya, bahkan hal-hal kecil yang membuatnya penasaran, termasuk perasaannya dan teman-teman di sekolah. Namun Bunda selalu mengingatkannya dengan lembut namun tegas
 
"Senang itu wajar, Nak. Tapi tetap harus tahu diri dan mawas diri. Ingat, pendapat orang tua tidak selalu benar. Jadi kalau ada yang kurang setuju atau ingin kamu sampaikan, bicaralah dengan sopan dan tenang. Pendapatmu berharga, begitu juga rasa hormat kepada orang lain."

Setiap pagi, Sandika berangkat ke sekolah dengan mengendarai motor pemberian Bunda. Ia selalu berangkat lebih awal dan tak pernah sekalipun terlambat. Untuk kebutuhan sehari-hari, Sandika diberi uang saku sebesar Rp50.000 untuk dua hari, atau sekitar Rp25.000 per hari. Karena bensin motornya sudah selalu diisi Bunda, Sandika hanya menghabiskan sekitar Rp5.000 untuk jajan di sekolah. Sisanya? Ia simpan rapi di celengan tabungannya.
 
Kalau ada sesuatu yang ingin dibeli atau tempat yang ingin dikunjungi bersama teman-teman, ia akan melihat dulu berapa tabungannya sudah terkumpul  tidak langsung meminta kepada orang tuanya.
 
"Bukan karena aku tidak boleh meminta," ujarnya tenang, "tapi rasanya jauh lebih puas dan bangga kalau aku bisa menabung dan membelinya dengan uangku sendiri."
 
Di Sekolah Teman, Belajar, dan Tanggung Jawab
 
Sandika dikenal sebagai siswa yang disiplin. Ia tidak pernah telat datang ke sekolah. Pernah satu kali sakit saat di sekolah, lalu izin pulang  itu saja. Tidak ada absen yang berlebihan.
 
Di kelas, ia merasa nyaman. Teman-temannya saling mendukung. Kalau ada materi yang belum dipahami, Luna, Faris, dan Rizal sering membantu menjelaskan. Pelajaran yang dirasa paling menantang adalah Matematika, Kimia, dan Fisika. Tapi bukan berarti ia menyerah. ia tahu harus berusaha lebih di bagian itu. Sebaliknya, ia sangat menikmati pelajaran yang berhubungan dengan IPS sejak di SMP ia memang lebih senang ke arah itu.
 
Sandika berteman dengan siapa saja. Tidak ada masalah dengan teman sekelas. Suasana kelas kadang berisik, kadang tenang wajar. Tapi Sandika berharap Ketua Kelas bisa lebih tegas dan cepat tanggap saat suasana mulai kurang kondusif. Sementara itu, perannya sendiri di kelas adalah sebagai bagian dari tim Dokumentasi bersama Salsabila dan Syalu  tugas yang ia jalankan dengan tanggung jawab.
 
Mimpi di Ujung Rel
 
Dari kecil, Sandika punya ketertarikan yang unik kereta api. Saat masih tinggal di Bandung, sering melihat kereta lewat membuatnya kagum  pada bentuknya, warnanya, pada bagaimana kereta bisa membawa orang menuju tempat-tempat jauh. Ia suka memperhatikan livery kereta, membayangkan dirinya yang duduk di dalamnya, atau bahkan yang mengemudikannya.
 
Maka mimpinya terasa begitu alami ingin menjadi masinis. Ia ingin masuk ke Sekolah Kedinasan Kereta Api yang ada di Bekasi tempat yang cukup dekat dari rumah. Jalurnya kedinasan, jalur yang terhormat dan terarah. Tapi ia juga tahu harus mempersiapkan diri dengan baik. Sementara di sekolah, rencana masuk ke jalur IPA Bisnis adalah langkah yang bijak membuka pintu ke berbagai kemungkinan, termasuk kedinasan kereta api maupun jurusan lain yang mungkin diminatinya kelak.
 
Ada juga yang menyebutkan jalur Hukum ke UNPAD, Unisba, atau Unjani  dan itu tetap pilihan yang terbuka. Sandika paham belum harus menetapkan hari ini. Yang terpenting hari ini adalah belajar dengan sungguh-sungguh, menjaga kesehatan, dan memperbaiki diri setiap hari.
 
Di Mata Ibu Wali
 
Ketika ditanya bagaimana ia memandang Ibu Nia sebagai wali kelas sekaligus guru Informatika, Sandika menjawab dengan tulus
 
"Ibu itu seperti orang tua di sekolah. Baik, lembut, tapi tetap tegas. Ibu tidak hanya mengajar pelajaran, tapi peduli dengan kami sebagai  anak anak di sekolah. Terima kasih sudah mendengarkan dan membimbing saya dengan sabar."
 
Dan inilah harapan Ibu untuk Sandika
 
Sandika, tetaplah menjadi pemuda yang bijaksana. Hargai orang tuamu  Bunda yang selalu mendengarkan, Ayah yang bekerja keras untuk keluargamu. Hematlah seperti sekarang, karena itu kekayaan yang tak ternilai. Kejar mimpimu menjadi masinis, impian yang indah dan mulia. Tapi ingat, jalannya boleh berbelok, semangat tidak boleh berhenti. Jadilah anak yang membanggakan di mana pun kamu berada. Ibu selalu mendukungmu. Semangat terus, Sandika.
 
 
 

Comments

Popular posts from this blog

Tentram di Hati, Siap Melangkah Cerita Seorang Guru Wali dan Muridnya

Catatan Pembinaan Hijrah — Langkah Kecil Menuju Mimpi